Review Buku
Oleh Hidayat Chaniago
1. Judul buku :
LAFRAN PANE (Jejak Hikayat Dan
Pemikirannya)
2. Penerbit
: Lingkat
3. Penulis
: Hariqo Wibawa Satria
4. Tahun terbit
: 2011
5. Cetakan
: Kedua, Februari 2011
6. Tebal halaman : 510 hlm. 14 x 21 cm
8. No ISBN
: 978-602-98049-0-4
Sang Pahlawan Pemilik Hati Yang Merdeka adalah
julukan yang sangat pantas untuk disematkan kepada salah satu tokoh bangsa
putra asli Sumatera Utara. Lafran Pane lahir disebuah kampung Pangurabaan,
Kecamatan Sipirok, sebuah tempat yang terletak di kaki Gunung Sibualbuali, 38
kilometer ke arah dari “kota salah” Padang Sidempuan, ibu kota Kabupaten
Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, beliau dilahirkan pada tanggal 5 Februari
1922, dan ada juga menurut berbagai tulisan mengatakan beliau lahir pada 12
April 1923. Beliau adik kandung dari tokoh sastrawan ternama di Indonesia yaitu
Sanusi Pane dan Armijn Pane.
Beliau juga salah seorang pendiri organisasi mahasiswa terbesar di
Indonesia yang dikenal dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri pada
tanggal 5 Februari 1947 (14 Rabiul Awwal 1366 H) di kampus Sekolah Tinggi Islam
(STI) Yogyakarta. Tujuan awal didirikannya HMI adalah Pertama, mempertahanka negara republik Indonesia dan mengangkat
derajat rakyat Indonesia. Kedua,
menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tujuan tersebut dibuat agar para mahsiswa tergerak untuk
mempertahankan Indonesia yang masih berumur sekitar 2 Tahun agar bisa
benar-benar merdeka dan lepas secara bebas dari penjajahan dan terkhususnya
para mahasiswa Islam agar mau menampilkan dirinya sebagai muslim sejati. Tujuan
sederhana inilah organisasi HMI pada saat itu mudah untuk diterima mahasiswa walaupun
ada dinamika-dinamika yang dihadapi oleh Lafran Pane dengan teman-temannya.
Di buku ini selain menceritakan kisah hidup Lafran Pane, penulis
menceritakan tentang pemikiran beliau terkait dengan masalah kebangsaan, Islam
dan pergerakan mahasiswa pada saat itu terkhususnya untuk organisasi yang
beliau dirikan bersama rekan-rekannya. Dan beliau juga di angkat menjadi Guru
Besar Ilmu Tata Negara IKIP Yogyakarta dan menjadi salah satu Dewan
Pertimbangan Agung pada masa Presiden Soeharto. Buku ini ditulis secara ilmiah
yang bermula dari penulisan skripsi sehingga dijadikan sebuah buku. Penulis juga
menceritakan kisah atau pendapat para tokoh-tokoh nasional seperti Muhammad
Natsir, Muhammad Hatta, H.O.S Cokroaminoto, Soekarno dsb. Lafran Pane sangat
perhatian terhadap mahasiswa untuk membina Intelektualnya, sehingga mahasiswa
harus berada di garda terdepan untuk menciptakan suatu perubahan. Dengan intelektual
mahasiswa bisa keluar dari segala macam bentuk persoalan-persoalan yang
dihadapinya, bukan hanya sebatas masalah di organisasi yang diikutinya saja
akan tetapi jauh lebih besar daripada itu.
Memiliki watak atau karakter yang sangat keras dan dengan prinsip itulah
Lafran Pane bisa hidup secara sederhana, tawadhu, penyabar dan tidak berlebihan
dengan dunia. Sikap ini dilakukan Lafran Pane untuk mengajarkan kepada kit
semua agar hiduplah dengan dari apa yang kita dapatkan, bahkan selama hidupnya
Lafran Pane tidak memiliki rumah pribadi, kendaraan mobil mewah hanya sebuah
sepeda yang setia menemani kemana ia berpergian. Hal ini sudah dirasakan Lafran
Pane ketika selama hidupnya sejak kecil yang di tinggal oleh almarhum ibu
kandungnya. Sehingga terbentuklah karakter yang sedemikan dengan melewati
proses terbentur dengann kehidupan yang nyata. Akan tetapi, hal tersebut tidak
membuat Lafran Pane menjadi seorang yang kecil ataupun dihinakan oleh orang
lain, namun hal inilah yang membuat dirinya besar sehingga banyak tokoh bangsa
ini sangat kagum dengan sosok beliau. Beliau juga mengkader beberapa orang
sehingga bisa menjadi orang yang sukses, bahkan banyak kisah-kisah menarik dari
buku ini diceritakan oleh penulis berasal dari sumber orang-orang terdekat
Lafran Pane.
Akhirnya, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca oleh kalangan mahasiswa
terkhusus bagi kader-kader yang berkecimpung di HMI agar bisa mengenal lebih
dalam sehingga bisa menerapkan akhlaq mulia dari sosok manusia yang dianugrahi
Pahlawan Indonesia. Walaupun buku ini sudah jauh dicetak sejak 10 tahun yang
lalu, akan tetapi masih relevan untuk dibaca pada kondisi saat ini. Bahkan
secara keseluruhan buku ini sangat baik isinya, sangat padat referensinya
bahkan dalam proses penyelesaianya menggunakan metode-metode penelitian
sehingga buku ini memiliki kualitas yang baik terkhusus untuk memberkan
referensi kemajuan bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

Komentar
Posting Komentar