Membiasakan Hidup Dengan Penuh Kebaikan

Oleh : Hidayat Chaniago

Berkata Para Ulama "Barang siapa yang hidup diatas kebiasaan tertentu niscaya ia akan wafat di atas kebiasaan tersebut. Nemun, barang siapa yang wafat di atas kebiasaan tersebut, niscaya ia akan di bangkitkan seperti itu pula. "


Barang Siapa Yang Selalu berbuat kebaikan walaupun hanya sekecil biji sawi, maka Allah akan membalas kebaikan itu dan barang siapa yang berbuat kejahatan walaupun hanya sebesar biji sawi maka Allah akan membalas itu pula. 


Buya Hamka Mengatakan "Barang siapa yang mencari keinginannya maka Allah Akan pertemukan dengan keinginannya dan apabila dapat, Maka ia akan hidup dari apa yang di dapatkannya pula"


Sesederhana itu kalimat "Baik" dan tidak perlu menguras tenaga dan fikiran untuk mendefenisikannya, yang keseharian sangat mudah untuk selalu kita lakukan. Baik itu merupakan kata sifat dan akan sempurna apabila diaplikasikan dalam bentuk pekerjaan dan mengajak orang pula untuk melakukan hal yang sama. Setiap kebaikan maka akan di ganjar pula dengan kebaikan. Bentuk kebaikan tidak ada bersifat baku, hal ini dapat di kategorikan sebagai bentuk yang luwes/elastis. 


Artinya setiap orang memiliki perbedaan dalam memahaminya. Ada yang ketika ia memberi ia bisa dikatakan sebagai orang yang baik, namun ada yang menilai memberi saja tidak cukup kalau tidak di akhiri dengan keikhlasan, namun ada juga yang menilai ikhlas itu diharuskan dalam penerapannya melupakan perbuatannya. Kalau dalam hal profesi/pekerjaan semisal seorang Aparat Penegak Hukum (APH) ketika melakukan pekerjaannya yang sangat profesional dan tidak berbuat curang ia dapat dikatakan sebagai orang yang baik apalagi dalam profesinya dapat memberikan manfaat dan merealisasikan keadilan bagi seluruh masyarakat.

Bahkan Rasulullah SAW mengatakan manusia yang baik itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain dan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang belajar dan mengajarkan tentang Al Quran. Dan dari hal ini sangat penting bagi seluruh manusia untuk tidak pernah memandang sempit pemahaman terhadap makna dan kebaikan itu sendiri. 


Selain itu kebaikan dalam penerapannya tidak hanya untuk individu, namun diwajibkan untuk menularkan kepada orang lain agar bisa menjadi kebiasaan/habbit sehingga terciptalah sebuah lingkungan yang memiliki lingkaran-lingkaran kebaikan dan setiap orang menerima dampaknya. Apabila ini sudah tercipta maka siklusnya akan terus membesar sehingga terciptalah sebuah karakter/sifat kepribadian yang baik terhadap setiap individu.


Maka apabila kebaikan yang selalu dilakukan secara terus menerus akan berdampak positif bagi diri manusia. Dan yang perlu di garis bawahi adalah Kenapa orang tidak mau berbuat kebaikan ? Dan untuk menjawab ini pula pasti memiliki alasan yang relatif berbeda-beda. Ada yang beralasan bahwa sebab dan akibat kejadian yang terjadi membuat orang tidak melakukan kebaikan semisal orang tersebut pernah di tipu, di dzhalimi atau hal-hal lainnya sehingga orang tersebut sulit untuk melakukan kebaikan. 


Ketahuilah seperti apapun bentuk diri kita kejadian yang sedang kita alami maka hal itu tidak menjadi benteng yang menghalangu kita untuk melakukan kebaikan. Bangsa yang besar tidak memerlukan orang yang pintar ataupun memiliki kualitas prestasi yang gemilang karena cerdas dan prestasi itu bisa diraih dengan mudah karena selalu berbicara angka. Namun bangsa yang besar sangat memerlukan orang orang yang baik dan berkarakter karena masa depan bangsa mau tidak mau akan di nahkodai orang warga negaranya dan sangat di perlukan orang-orang yang memiliki kualitas karakter yang paripurna agar terciptanya sebuah negara yang maju. 


Teruslah berbuat kebaikan sampai perbuatan tersebut menjadi kebiasaan kita dan apabila kita tidak melakukan kebaikan maka tanamkan atau buat perjanjian akan ada hukuman/punishment yang di dapatkan. Seperti petinju terkenal Muhammad Ali, ia menyimpan korek api di saku pakaiannya, apabila ia melakukan keburukan maka ia bakar itu korek dan di letakkan pada tubuhnya sampai mengalami kesakitan di ibaratkan seperti siksaan api neraka yang sangat pedih. Berbuat kebaikanlah karena perbuatan tersebut merupakan perintah Allah dan Rasul yang akan menghasilkan untung yang seuntung-untungnya/meraih kemenangan yang besar (Faqad Fauzan Azima).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Falsafah Alam Takambang, Jadi Guru

"Aspek Penting Dalam Pemindahan Ibu Kota Baru"

Daftar Pencarian Orang (DPO) Dalam Hukum Acara Pidana