Pendidikan Berkarakter di Era Modern
Oleh : Hidayat Chaniago
Sebuah falsafah yang mendalam sering kita dengar didalam pembukaan UUD 1945 yaitu adalah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Maksud dari kalimat tersbut secara umum adalah setiap manusia di negeri ini harus cerdas agar bisa berkontribusi penuh terhadap negaranya khususnya di Indonesia. Penafsiran seperti hal ini bisa dikatakan boleh-boleh saja, akan tetapi belum adanya petuah yang tersampaikan kepada khalayak banyak. Nasihat yang sangat mendalam harus tersampaikan terkhususnya didalam dunia pendidikan. Yaitu setiap manusia wajib ikut serta dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa lewat pendidikan baik dalam bentuk formalitas maupun non formal.
Sudah banyak teori-teori yang belum efektif dalam penerapannya dikarenakan sering adanya benturan-benturan ketika di aplikasikan. Secara sederhana saja dunia pendidikan diharapkan bermuara kepada pembentukan karakter yang sempurna. Dalam hal ini, haruslah diupayakan dalam bentuk penerapan secara aplikatif yang konsisten dan diperlukan dukungan dari semua khalayak orang banyak. Dunia pendidikan saat ini cenderung kepada bersifat materialistis dan pragmatis. Hal ini terdapat dalam buku Truth, Beauty, and Goodnes Reframed : Educating for the Virtues in The Twenty-First Century, yaitu seorang ahli pendidikan terkemuka dari Harvard, Howard Gardner, seperti menyesali pemikiran-pemikiran pendidikan yang terdahulu. Karena, meski sudah menawarkan paradigma kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) yang amat revolusioner bagi dunia pendidikan, sebelumnya ahli psikologi ini tetap saja cenderung melihat pendidikan lebih dari sudut pandang disiplin ekonomi dan biologi. Maka didalam buku terbarunya, Gardner menawarkan sebuah solusi yaitu pendidikan yang lebih humanistis, yang meliputi sudut pandang filsafat, psikologi, sejarah dan studi budaya (Cultural Dies). Dari penjelasan Gardner di dalam bukunya tersebut, Indonesia telah melakukan gebrakan-gebrakan baru untuk menciptakan sebuah solusi yang berupa pendidikan yang berkarakter.
Objektivitas dunia pendidikan di negeri ini selalu terfokus kepada usia pelajar. Padahal bangsa ini telah mengalami bonus demografi yaitu sangat banyak usia produktif yang bisa di bina untuk bertujuan menciptakan ide-ide untuk kemajuan Indonesia. Maksudnya adalah dunia pendidikan harus berfokus kepada seluruh elemen masyarakat, lembaga dan lain sebagainya. Dalam arti harus mendapatkan pendidikan yang sesuai pada bidangnya masing-masing. Bung Karno ketika ia menyampaikan Revolusi Mental tidak pernah mengatakan secara khusus dalam pembinaan karakter bangsa itu dimulai dari pelajar/sekolah. Mengapa demikian, ada sebuah anggapan bahwa tidak semua manusia mendapatkan hak atau kesempatan yang sama terutama dalam hal pendidikan sekolah. Alam adalah salah satu tempat pembelajaran yang pertama ketika kita dilahirkan. Kita harus bisa beradaptasi dengan dunia padahal sebelumnya selama 9 bulan kita berada dalam kandungan ibu kita.
Kita selalu terpenjara dengan keadaan sehingga kita merasakan tidak terpedaya maka bisa jadi seseorang tersebut terperosok kedalam kondisi yang memprihatinkan. Seperti contoh, seorang anak yang lahir dari keluarga yang tidak mampu, ketika musim pendaftaran sekolah tiba ia tidak bisa mendapatkan kesempatan dikarenakan tidak memiliki biaya karena di lingkungan tempat ia tinggal lebih memperhatikan bahwa masuk sekolah itu sesuatu yang wajib. Tapi apakah budaya ini benar ? Saya katakan tidak sepenuhnya benar, anak tersbut bisa mendapatkan hak yang sama tapi dengan wilayah yang berbeda. Yaitu perlunya dorongan dari pemerintah dan orang-orang yang berkompeten dalam hal ini, untuk menciptakan budaya sekolah non formal. Ini adalah sebuah masalah yang telah lama bahkan mendarah daging dibangsa ini. Kita selalu dihadapkan untuk segara mendapatkan gelar agar terpandang dalam status sosial, sehingga apabila tidak mendapatkan maka kita tersingkirkan. Seperti kisah hidup Buya Hamka, beliau bisa dikatakan tidak sekolah dengan bentuk formalitas tetapi dia belajar melalui dengan cara non formalitas yaitu belajar secara otodidak di awali membaca buku, diskusi dengan beberapa tokoh bangsa, serta menuliskan pemahamannya apa yang ia ketahui sehingga jadilah sebuah karya fenomenal. Maka hal inilah yang membuatnya di hargai oleh semua khalayak korang banyak dan diberikan Gelar Honoris Causa dibeberapa perguruan tinggi.
Pendidikan saat ini terkhususnya di Indonesia telah mengalami bonus demografi sangat diharapkan untuk seluruh usia baik tua maupun muda wajiblah ikut serta berkontribusi dan mendapatkan pendidikan yang layak agar dapat membangun bangsa sesuai dengan keahliannya masing-masing. Menciptakan budaya baru memang penuh tantangan bahkan tidak bisa dihindarkan oleh berbagai macam resiko. Dan perlu ditegaskan manusia bukanlah Artifical Intelligence, betapapun canggihnya. Selain kekuatan fisik dan kemampuan berpikir, manusia adalah makhluk yang terutama memiliki jiwa dan hati. Dan sebagaimana kemampuan fisik serta kemampuan berpikir harus dikembangkan dan diaktualkan, maka demikian pula halnya dengan kemampuan kejiwaan dan kemampuan ruhaniah manusia. Karena itu, pendidikan pasti bukanlah sekadar pengembangan kompetensi vokasional, apalagi jika istilah ini dipahami secara sempit sebagai sekadar keterampilan-keterampilan praktis, maupun kompetensi akademis dalam bentuk kemampuan bepikir logis-analistis dan kemampuan penelitian sepenting apapun keduanya dalam menentukan kesejahteraan hidup seseorang.
Kegagalan sistem pendidikan kita pada saat ini adalah dalam mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional dikarenakan dalam hal ini menyebabkan para peserta didik tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan emosi positif dan empati. Dikarenakan kita selalu berfokus kepada dunia sekolah yaitu objeknya adalah pelajar sehingga selain itu di abaikan. Sebenarnya dunia ini bersifat sosial yang selalu berkegiatan interaktif untuk menciptakan suatu keakraban dalam bersosialisasi. Kesejahteraan intelektual tidak serta-merta diuji dalam bentuk nilai yang tertuang didalam selembaran kertas, akan tetapi hal ini perlu adanya kesejahteraan psikologis dan sosial agar terbendungnya karakter pesimis dan mudah galau. Karakter solidaritas sosial haruslah direalisasikan di setiap lini masyarakat.
Maka apabila hal ini diciptakan, tentunya akan terciptanya suatu cita-cita yang kuat, memiliki (visi), karakter, kekuatan imajinasi, leadership, dan unsur-unsur sejenisnya. Daniel Goleman, dalam bukunya yang fenomenal, Emotional Intelligence, mengatakan kecerdasan emosional kita menentukan potensi untuk belajar lebih terampil praktis. Kompetensi emosional kita menunjukkan berapa banyak potensi kita yang telah diaplikasikan menjadi kemampuan yang bisa dipakai saat bekerja. Sementara, mengenai spiritual intellegence, Danah Zohar dan Ian Campbell menyimpulkan bahwa kecerdasan ruhaniah ini memberi kemampuan untuk bekerja secara adaptif-kompleks (berdasarkan prinsip chaos, yang tidak sekadar logis-linear), yang lebih sesuai dengan lingkungan kegiatan yang luar biasa cepat berubah seperti yang terjadi sekarang ini. Dalam bisnis, yang disebt sebagai social capital, yang lain spiritual capital.
Maka jelaslah bisa dikatakan bahwa, Indonesia kedepan harus mampu menciptakan budaya yang memiliki sistem kompleks untuk merealisasikannya. Pendidikan yang bersifat cenderung kepada teoritis akan tidak akan relevan apabila tidak disandingkan dengan praktek yang sesuai pada tempatnya. Dengan demikian, bonus demografi yang dihadapi negeri ini akan mampu dan siap bersaing didalam negeri maupun luar negeri. Selain itu sangat diperlukan sebuah kurikulum yang harus dikembangkan kedapannya berupa aspek daya ruhaniah yang melibatkan kegiatan-kegiatan spiritual yang berorientasi pembinaan hubungan vertikal dengan Sang Agung serta menerapkan pola-pola pengembangan akhlak sosial, sehingga memberikan dampak positif dalam pembangunan bangsa yang berkarkater serta modern demi kemajuan Indonesia.
Penulis Merupakan Relawan Pengajar Muda di Sumatera Utara
Komentar
Posting Komentar