Nasionalisme dan Keanekaragaman dalam Membangun Indonesia
Oleh Hidayat Chaniago
Bangsa Indonesia
memiliki semboyan yaitu Bhineka Tunggal ika yaitu berbeda-beda tapi tetap satu
jua. Yaitu suatu semboyan yang ditulis oleh Mpu Tantular pada masa kerjaan Majapahit.
Para pendiri bangsa ini menerima warisan dari Mpu
Tantular tersebut dan mereka tampaknya cukup toleran dalam hal ini. Sikap
toleran ini merupakan watak dasar suku-suku bangsa di Indonesia yang telah
mengenal beragam agama, berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi.
Negara Indonesia yang
terbentang dari Sabang sampai Marauke dari Miangas sampai pulau Rote tampak
berjajar pulau-pulau dengan komposisi dan kontruksi yang beragam. Di pulau-pulau
tersebut berdiam penduduk dengan ragam suku bangsa, bahasa, budaya, agama, adat
istiadat, dan keberagam lainnya di tinjau dari sebagai aspek. Budaya luhur
bangsa Indonesia tidak terlepas dari kebudayaan yang tumbuh dan berkembang yang
menjadi warisan dari jaman kerajaan Nusantara seperti Sriwjaya, Majapahit,
Mataram Islam dan kerjaan-kerajaan yang lainnya juga melahirkan budaya
tradisional yang telah berurat dan berakar sampai saat ini.
Bangsa Indonesia sudah
berabad-abad hidup dalam kebersamaan dengan keberagaman dengan keberagaman dan
perbedaan. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat, istiadat, agama dan berbagai
perbedaan lainnya. Perbedaan tersebut dijadikan para leluhur sebagi modal untuk
membangun bangsa menjadi bangsa yang besar. Sejarah mencatat bahwa seluruh anak
bangsa yang berasal dari suku, agama, manapun terlibat dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Semua ikut berjuang dengan mengambil perannya
masing-masing.
Dalam perbedaan
kepercayaan, dan dalam memiliki hak untuk dilindungi atas kepercayaannya itu
telah di atur dalam Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Repulik
Indonesia Tahun 1945 ditetapkan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu. Ketentuan tersebut menggambarkan
keanekaragaman agama di Indonesia.
Pada saat ini
keberagaman sudah mulai memudar. Sudah saling tuding menuding satu sama lain.
Padahal keanekaragaman itu adalah suatu kekuatan bangsa Indonesia yang tidak
dimilki oelah bangsa lan. Rasa toleransi dalam ummat beragama sudah memudar,
toleransi dalam saling menghargai suku bangsa. Padahal dahulu para pejuang
semangat untuk berdirinya bangsa ini tanpa memandang siapa dia, dan mereka
hanya berfikir untuk melawan kolonialisme yang sangat kejam dan bagaimana
caranya untuk merdeka. Nah pada dewasa ini, pada di era sekarang banyak
kecenderungan antar individu bersikap saling curiga yang apabila hal ni
dibiarkan maka akan memecah persatuan dan kesatuan banga.
Nasionalisme dan Agama
itu adalah suatu elemen yang tidak bisa di pisahkan karena setiap agama selalu
menuntut untuk berjuang, berbuat baik kepada sesama bukan untuk saling
jatuh-menjatuhkan. Kesatriaan yang terdapat dalam diri para Pahlawan Bangsa ini
tidak terlepas dari landasan beragamanya, suku adalah sebagai alat penyatu
mereka, dan bentuk tubuh adalah suatu alat untuk mereka saling mengenal satu
sama lain. Bangsa yang besar ini memiliki potensi yang kuat untuk saling
menghargai satu sama lain, karena kalau di tarik dari garis sejarah bangsa
Indonesia adalah bangsa yang sangat ramah, bangsa yang di kenal dengan gotong
royongnya tetapi belakangan ini hal itu sudah sangat memudar. Ada saja individu
yang merusak agama dengan cara kefantikannya terhadap Nasionalisme yang ia
pahami dan begitu juga sebaliknya. Dan ada juga kelompok yang berusaha merusak,
menghancurkan kesatuan bangsa, keberagaman bangsa dengan cara mengadu domba
untuk kepentingan individu & kelompoknya. Padahal bangsa untuk saat ini
tidak membutuhkan itu, tetapi bangsa ini membutuhkan kesejahteraan untuk
masyarakat. Konsep Toleransi adalah suatu hal yang sangat baik untuk diketahui
setiap warga negara karena toleransi membawa kepada kedamaian. Dan dalam
toleransi kita tidak perlu menunggu orang untuk menghargai kita tapi kitalah
yang memulai untuk saling menghargai dimulai dari diri kita masing-masing (Ibda’ Binafsih).
Komentar
Posting Komentar